Yea ... but in the end, this is just a worldly life, dan saat namanya sedang hidup di dunia, nyatanya kita memang enggak akan selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, kan? :')
Kutuliskan dari hati, untuk semoga sampai ke hati.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Yea ... but in the end, this is just a worldly life, dan saat namanya sedang hidup di dunia, nyatanya kita memang enggak akan selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, kan? :')
![]() |
| Seru deh pokoknya ♡ |
![]() |
| Bersama puppet maskot kelompok kami! :D |
Sebagai seseorang yang masih menyandang status mahasiswa, memutar ulang hari-hari pada satu tahun yang sudah (hampir) berlalu tanpa meng-highlight momen-momen perkuliahan sepertinya jadi satu bentuk violation terhadap status mahasiswa itu sendiri.
Ah, iyakah?
Well, tidak juga sih sebenarnya 😂
Dan memang, bukan itu alasanku menjadikan aspek akademik sebagai bagian dari series Rewinding 2022 kali ini. Tetapi karena bagiku, tahun 2022 memang tak lepas dari peranan besar momen-momen yang berhubungan dengan perkuliahan, baik itu di semester 4 maupun semester 5. Segala proses jatuh-bangun, kelelahan, keseruan, kepelikan, dan pembelajaran yang tak terhitung jumlahnya di tahun ini, banyak dipengaruhi oleh kewajiban-kewajiban yang dihadirkan dalam mata kuliah-mata kuliah tertentu—atau malah oleh perkuliahan itu sendiri secara keseluruhan.
So, let's start the rewind!
=======
Kalau anak-anak angkatanku ditanya, "mata kuliah apa yang paling jadi highlight di semester 4 kurikulum MBKM Fapsi Unpad", aku hampir 100% yakin jawabannya adalah suara bulat untuk mata kuliah satu ini.
Metodik Tes.
Dan ya, aku akan jadi salah satu orang yang menjawab begitu. Karena mata kuliah satu ini memang seberkesan itu. Terus terang, sebenarnya kesan pertamaku sendiri enggak terlalu baik waktu pertama menyimak kuliah hari pertamanya, hehe.
Ya ... gimana lagi?
Setelah tiga semester menemui matkul-matkul yang tak jauh-jauh dari peran akademisi pada umumnya dengan penelitian, teori, praktikum, dan proyek, kali ini kami dikenalkan dengan aturan fashion, tugas hafalan, dan "prakarya". Wajar kan yaa kalau waktu itu aku jadi mengomel sendiri, "Ini kuliah apa sih" 🙂🙏🏻
Selama berbulan-bulan dari Februari sampai Juni, hampir setiap malam Selasa (dan juga hari Selasanya tentunya) pasti jadi momen riweuh dan rempongnya Psikopad'20 deh. Aku sendiri termasuk yang selalu riweuh pagi-pagi hari Selasa ... karena apa? Tentu saja karena "prakarya"-ku selalu baru kusempatkan untuk dikerjakan di Selasa pagi, yap, padahal kelasnya jam 8. 😇
Kelas mulai, riweuh selanjutnya memasuki klimaks baru tuh. Berurusan dengan menumpuk buku di bawah laptop supaya webcam bisa cukup memperlihatkan wajah dan "hasil prakarya". Belum lagi menempel si "hasil prakarya" di dinding dan melepasnya setiap harus menampilkan kertas baru sehingga area belajarku selalu berantakan dengan kertas-kertas berukuran 60 x 90 cm terbungkus plastik yang tersampir sembarangan di meja dan sofa. 😂
Orang tuaku sampai sudah tidak heran lagi kalau setiap hari Selasa selalu tampak dan terdengar pemandangan yang sama. Pasti matkul satu itu.
Nah, tapi itu baru setting daringnya. Satu hal lain yang bikin matkul ini berkesan adalah karena dialah yang "berjasa" membuat angkatanku akhirnya merasakan kuliah luring, bertemu di kampus, dan menjalani hari-hari yang sudah tertunda satu setengah tahun lebih untuk kami alami. That's why, bagiku matkul ini jadi sangat istimewa.
Aku masih ingat betul tanggal bersejarah itu.
Selasa, 12 April 2022, saat segala rasa penasaran dan antusiasme akan "suasana kuliah yang sebenarnya" itu akhirnya terbayarkan sudah.
![]() |
| Some of orang-orang hebat yang selalu ada di hati ♡ |
Itu ... bener-bener salah satu hari paling berarti sepanjang tahun 2022 sih, bagiku. I owe Mettes a lot for this, LOL.
Dan ... ya, sejak hari itu, bisa dibilang matkul ini jadi selalu luring, kecuali pada tugas-tugas tertentu. Praktikum dan UAS kami pun diadakan luring, memperkenalkan momen baru yang diwarnai dengan ketegangan, kelelahan, rasa pegal, dan deg-degan selama pelaksanaannya, tetapi (setidaknya bagiku) sangat menyenangkan saat dikenang kembali.
Dosen pembimbing kelasku sempat bilang kurang lebih begini waktu praktikum utama kelompokku selesai, "Nanti pasti kangen deh sama matkul yang ini. Matkul ini tuh yang paling beda dari semua matkul psikologi lainnya."
And I'm 100% agree with her.
Aku tidak begitu tahu bagaimana dengan teman-temanku yang lainnya setelah matkul ini selesai karena memang ada banyak pengalaman yang tidak menyenangkan saat menjalani tugas-tugasnya, aku juga tidak akan memungkiri itu.
Tapi di sisi lain, dosenku benar. Matkul ini, dengan segala hal yang benar-benar berbeda dengan matkul Fapsi lainnya, justru jadi ikon paling unik dan berkesan dari semua matkul lain yang pernah kujalani. Meskipun melelahkan dan aku sendiri pun pernah beberapa kali mengungkapkan kegemasanku dengan tugas-tugasnya, I love it. I really love every process, no matter how much challenges it has given me.
Jadi ya, mungkin anomali, tapi terus terang ini salah satu matkul favoritku of all time, di antara puluhan matkul Fapsi Unpad yang lainnya.
Matkul semester 4 selanjutnya yang jadi mata kuliah kedua kami yang dilaksanakan luring, adalah Psikologi Konseling. Lecturing dan juga praktikumnya sudah sempat kami alami secara langsung di kampus, meski mayoritas kelasnya masih tetap diselenggarakan secara daring juga; hanya beberapa kelas saja yang diadakan luring. Terus terang, bagiku momennya tidak seterkenang Mettes, tapi yang istimewa dari matkul ini bagiku adalah materinya. I really love the materials, kayak ada banyak pemahaman baru tentang bagaimana cara memanusiakan manusia.
Meskipun begitu, matkul ini justru bikin aku enggak mau jadi konselor, apalagi psikolog karena ya, meskipun aku sangat suka materinya, setelah beberapa kali praktikum, rasanya this isn't my kind of field.
Matkul lainnya di semester 4 tidak ada yang diadakan luring, dan tak jauh-jauh dari kegiatan akademik kami biasanya, tapi versi pengaplikasian dan sudah lebih advanced. FGD di Psikologi Komunitas, pembuatan alat ukur di Konstruksi Tes, perancangan intervensi di Dasar-dasar Intervensi, penelitian kuantitatif mini dan review penelitian kualitatif di Metode Kuantitatif dan Kualitatif, penyusunan training di Teknik Memfasilitasi Pembelajaran, dan penelusuran profil lulusan di Pengembangan Karir.
Dinamika kerja kelompok dan kesadaran mengenai arah minat jadi highlight tersendiri di matkul-matkul ini. Ya ... karena bentuknya bisa dibilang sudah lebih terarah semua, aku jadi lebih bisa menemukan mana yang langkah-langkahnya bisa kusenangi walau serumit apa pun, dan mana yang "cukup sekali ini aja aku enggak mau ketemu urusan ini lagi".
Well to be honest, mayoritasnya memang tidak bisa dibilang menyenangkan bagiku, pun juga bukan merupakan hal yang ingin kutekuni sebagai lulusan psikologi nantinya. Tetapi setidaknya dengan segala lika-liku perkuliahan di akhir tahun kedua ini, aku sekarang jadi sadar juga, bahwa setiap pengalamannya telah menghadirkan rekaman eksplorasi bagiku sendiri.
Mata kuliah Pengembangan Karir juga sudah menunjukkan, hal yang bisa kami eksplor sebagai lulusan psikologi itu sangat amat luas, mencakup berbagai bidang dan peran. Melalui semester 4, aku jadi mengenal ragam perasaan dan juga pengalaman yang akhirnya bisa kuseleksi; mana yang memang prosesnya menjawab panggilan hati, dan mana yang justru membuatku ingin ia berlalu sesegera mungkin.
Ah ya, secara nilai, satu hal yang kusyukuri di semester 4 ini adalah akhirnya nilaiku bisa dibilang lebih stabil dibanding rollercoaster semester-semester sebelumnya. 😂
But that doesn't really matter in the end, sebab pengalaman, pembelajaran, dan dinamika yang terjadi di sana meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam, tak tergantikan oleh apa pun.
So ... untuk segala hal yang ada dan terlibat di dalam semester 4-ku ini, thank you, I'm more than grateful for everything. ♡
I love writing not only because it has always helped me survive each day, but because by writing, I can explore the world of words, the world where I can always look for more and more interesting treasures. Twenty-six letters with more than thousands of combinations can create more than thousands of words to form an untold number of sentences.
Dear (enter your name).
At the end of the 2020, I just want to say that you've finally passed all this 366 days perfectly! You've gone through so much but you can endure and you can still be yourself, thank God for that 💙 After all, whatever that might have happened in 2020, I wish those would help you to survive 2021 and stay strong. You've been that strong since you've survived 2020, I hope you'll do the same way with God's help, and that you'll be so much better than before. I wish you a happy, productive, and amazing whole year in 2021. Take care, stay safe, stay strong, stay happy, and stay proud of being yourself, okay? May God helps you on your way. 💙🍀
***
Kalau disuruh menggambarkan tahun 2020 secara keseluruhan ... terus terang aku enggak tahu harus bilang gimana.
Apakah aku harus jawab bahwa tahun ini penuh kesedihan, dengan pandemi yang berlangsung selama 10/12 bulan? Atau apakah aku harus bilang kalau tahun ini sungguh menyenangkan dengan fakta bahwa salah satu impianku akhirnya terwujud setelah lewat pertengahan tahun? Atau ... apakah aku bisa bilang bahwa tahun 2020 adalah tahun yang menyakitkan dengan semua yang terjadi?
Lalu kalau ditanya, satu kata untuk 2020, apa jawabanku? Tadi, pada salah satu pertanyaan itu, aku menjawab bahwa tahun ini "mengesankan". Tapi ... sebenarnya aku ingin memberikan jawaban yang lebih baik. Hanya saja, aku belum bisa menemukan kata yang tepat yang cukup menggambarkan 366 hari terakhir ini.
Aku juga tidak akan jawab satu pun dari tiga jawaban yang menggambarkan tahun 2020 itu. Tahun ini ... bagiku terlalu istimewa dengan segala warna yang ada di dalamnya. Ada begitu banyak hal yang terjadi, yang sebagiannya sudah kurangkum dalam dua post sebelumnya.
Tidak sedikit orang yang kehilangan banyak hal di tahun ini. Tak terkecuali aku. Alhamdulillah, aku, keluargaku, dan teman-temanku beserta keluarganya masih diberikan kesehatan dan semoga seterusnya begitu. Aku tidak kehilangan dari sisi itu. Aku kehilangan hal lain.
Kesempatan. Peluang. Waktu. Bahkan ada waktu di mana aku merasa kehilangan diriku sendiri. Saat aku merasa asing dengan diriku sendiri.
Itu saat-saat yang tidak mudah. Harus kuakui, di tahun ini, mungkin lebih tepatnya di semester kedua ini, I shed tears more than I ever did before. Entah berapa kali dalam empat bulan terakhir. Tidak sedikit kegagalan, kesedihan, kekecewaan, dan kegalauan yang harus kurasakan sejak euforia saat impianku terwujud. Membuatku kini bertanya sendiri dalam hati, apakah ternyata euforia itu harus kutebus dengan air mata dan luka sebanyak ini setelahnya?
Aku tidak tahu.
Tapi yang aku tahu, aku tidak mau menyesalinya. Terlalu banyak penyesalan yang telah kuhadapi beberapa waktu terakhir. Penyesalan yang berawal atau berujung pada kemarahanku terhadap diriku sendiri. Kadang aku tidak benar-benar menghadapi kegagalan yang harfiah. Tapi kadang aku merasa gagal. Tidak hanya sekali. Entah berapa kali.
Tahun ini, ada begitu banyak hal baru bagiku, terutama sejak Agustus lalu, sejak aku resmi memasuki dunia perkuliahan. Rasanya seperti memasuki sebuah kapal. Di tengah euforia diterima sebagai 'kelasi' baru, aku naik ke atas kapal itu, terpesona melihat-lihat seisinya, menatap dunia dari atas geladaknya, menikmati suasana yang tidak kurasakan di atas tanah. Lalu tanpa kusadari, di tengah euforia tersebut, kapal itu menaikkan jangkarnya saat aku masih berada di atasnya. Berlayar mengarungi lautan luas menuju tujuan berikutnya.
Sebentar. Aku menatap daratan yang makin tampak jauh. Masa laluku makin tampak berkabut dan akhirnya lenyap dari pandangan. Detik itu, aku segera menyadari bahwa aku belum menyiapkan apa pun. Aku naik ke atas kapal ini, tapi aku lupa untuk mempersiapkan diri. Perbekalan apa yang sudah kubawa? Ke mana kapal ini akan berlayar? Apa yang harus kulakukan di sini?
Naik ke atas kapal adalah pilihan dan keinginanku sejak awal. Aku tidak menyesal dan aku tidak panik. Aku tahu bahwa aku harus segera beradaptasi. Tapi, di luar rencanaku, aku nyaris tidak membawa apa pun yang bisa kujadikan modal untuk bertahan selama pelayaran. Aku harus menyiapkannya sendiri saat kapal telah telanjur melaju.
Seperti itulah saat aku menginjakkan kaki ke dunia ini, menyandang status mahasiswa baru, sebelumnya aku tidak ingat sama sekali untuk mempersiapkan apa pun. Aku telah telanjur pasrah untuk tidak diterima di kapal ini atau harus menaiki kapal lain ke tujuan lain. Aku sama sekali tidak berpikiran bahwa aku akan diterima di sini.
Namun, Allah ternyata mengizinkanku untuk naik ke atas kapal impianku. Aku senang, sangat. Tapi ... dulu aku mempersiapkan diri untuk kapal lain atau tidak naik sama sekali. Di sini, aku harus bagaimana?
Aku nyaris sama sekali belum pernah berlayar di atas kapal dunia akademik formal. Tugas-tugas yang susul-menyusul, kesibukan yang menyita waktu, kehidupan dan interaksi sosial yang terasa berbeda dibanding sebelumnya, semuanya terasa baru bagiku. Nyaris sempurna dua belas tahun (empat belas, jika TK dihitung) aku menempuh pendidikan nonformal di darat sebagai homeschooler. Naik ke atas kapal pendidikan formal, mengarungi lautan dengan segala prospek hambatan yang mungkin menghadang, belum sempat tergoreskan sempurna dalam kamus pengalamanku.
Meskipun begitu ... I can't be more grateful for it.
Teman-teman sesama mahasiswa baru (kelasi baru), kakak-kakak tingkat (kelasi senior), dan dosen-dosen (kapten kapal dan mereka dengan jabatan tinggi), semuanya sangat welcome dan memperlakukan kami dengan sangat ramah. Aku tahu, aku mungkin tidak akan bisa bertahan sejauh ini tanpa kebaikan mereka.
Mereka yang mengajariku banyak hal, secara langsung maupun tidak. Di paruh pertama tahun 2020, tidak banyak yang berubah selain fakta bahwa aku berusaha terus menguatkan tekad dan usaha untuk bisa lulus SBMPTN. Sesudah lulus, semuanya berubah.
Selama di kapal, seluruh penghuni dan suasana yang kualami telah mengubah banyak persepsiku terhadap banyak hal. Terutama terhadap pertemanan dan kehidupan sosial. Hal-hal sederhana yang selama ini kupandang dengan cara yang 'salah'. Contoh kecil saja, terus terang, dulu aku termasuk tipe orang yang baperan. Haha. Kalau ada yang bersikap terlalu baik padaku, khususnya cowok, aku bisa langsung mengaktifkan radar dan waspada menganalisis setiap perkataan dan tindakannya. Aku selalu yakin tidak mungkin dia bersikap baik tanpa alasan. 😂🙈
Setelah satu semester di Fapsi, anggapanku itu berubah. Lambat laun, aku akhirnya bisa menyimpulkan bahwa tidak selalu kebaikan seseorang itu bisa diartikan memiliki makna lain. They are being kind because they are kind. Dan aku akhirnya mulai terbiasa juga, tenang saja berkomunikasi dengan siapa pun yang baik itu (dan karena budaya 'kebaikan' di Fapsi, aku justru malah mudah mengidentifikasi mana yang intensitas baiknya tidak 'seroyal' yang lain, haha).
Itu cuma satu dari sekian banyak contoh lainnya.
Selain itu, aku juga baru menyadari bahwa dunia perkuliahan telah sedikit demi sedikit membantuku mendobrak ketakutanku dalam berinteraksi dengan orang lain. Ya, aku masih sering ragu dan takut, tapi terasa banget bedanya dibanding dulu.
Sebelum perkuliahan dimulai, saat aku tahu bahwa perkuliahannya daring, aku sungguh ragu aku akan berani menanyakan atau berpendapat di kelas. Tapi nyatanya ... kesempatan bertanya dan berpendapat justru menjadi sesuatu yang kuincar dalam setiap pertemuan. Jika aku diam, berarti aku sedang tidak memiliki pertanyaan atau pendapat (atau kadang ragu dengan pendapatku). 😂 Dan selalu menyenangkan saat mengaktifkan mikrofon dan berbicara itu. Sesuatu yang aneh jika membandingkannya dengan diriku yang dulu.
Kesempatan wawancara saat mengikuti open recruitment kepanitiaan, meskipun hanya sekali dan aku gagal, itu juga mengajariku banyak hal. Ada banyak kegagalan 'kecil' yang kualami selama di perkuliahan, tapi semua itu mau tak mau membuatku berpikir ulang tentang kemampuanku sendiri. Minder dan down tidak jarang terjadi, tapi aku sadar bahwa aku memang perlu lebih banyak belajar.
Angkatanku bertaburan orang-orang hebat dan berbakat. Tidak jarang insecure melanda, itu harus kuakui. But overall, mereka juga yang membuatku menyadari bahwa setiap orang punya keahliannya masing-masing. Dulu, aku cenderung skeptis terhadap kerja kelompok atau sejenisnya karena aku khawatir apa yang teman sekelompokku lakukan akan tidak sesuai dengan standarku.
Saat kuliah, tugas dan kerja kelompok itu sudah jadi rutinitas bahkan sejak awal karena ospek fakultas mengharuskan kami berkelompok-kelompok. Beda kelompok, beda personel, beda lagi cara kerjanya. Mau tak mau aku harus beradaptasi dengan semua itu. Dan lambat laun, hei, mereka bahkan bisa mengerjakannya dengan sangat baik, yang bahkan tidak bisa kulakukan. Sedikit demi sedikit, kepercayaanku terhadap anggota kelompok pun meningkat dan aku makin tidak keberatan untuk membiarkan mereka mengerjakan bagiannya (khususnya jika aku ketua kelompok).
All of these had taught me a lot and I'm really grateful for it.
Secara keseluruhan ... 2020 memang seperti roller-coaster dalam hal kejadian, pengalaman, dan perasaan. Berada di atasnya berarti harus siap dengan segala yang terjadi; belokan, tanjakan, atau turunan setajam apa pun. Tak jarang ketajaman lekukan jalur roller-coaster itu membuat kita tak bisa menahan jeritan. Dan itu tak apa. Tidak ada salahnya untuk menjerit saat situasi terasa begitu penuh ketidakpastian dan yang pasti hanyalah kebingungan.
Aku sadar, aku banyak berubah dibanding akhir tahun lalu. Kalau kutanya teman-teman lamaku, aku tahu mereka akan mengatakan hal yang sama. Ini overconfidence tapi somehow kemungkinan besar memang itulah yang akan terjadi, setidaknya pada sebagian orang.
Entahlah, apakah perubahan itu semuanya ke arah yang baik atau malah terjadi degradasi dalam kemampuan atau values yang kumiliki. Satu hal yang bisa kupastikan, semua yang telah terjadi pada tahun 2020 ini menjadi tamparan, peringatan, dan penguat bagiku untuk menghadapi 2021. Ketidakpastian yang sama akan kuhadapi dengan situasi yang ada sekarang. Ada banyak hal baru dan entah apa saja.
Aku tidak bisa menerawang masa depan, tapi aku bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi dari sekarang. Menggali lagi 'emas-emas' yang telah kutemukan sepanjang 2020, menjadikannya bekal untuk bertahan sepanjang tahun yang akan datang.
Apa pun yang telah berlalu, apa pun suka dan duka itu, apa pun yang telah hilang dan yang kudapatkan, apa pun yang telah menjatuhkan dan membantuku bangkit sepanjang tahun 2020 ... aku harus bersyukur atas semuanya. Aku percaya Tuhanku tahu yang terbaik bagiku, jadi semoga Dia menuntunku ke arah sana, semoga Dia tidak meninggalkanku.
Akhir kata untuk tahun 2020, semoga apa pun yang akan terjadi sepanjang 365 hari di tahun 2021, kita semua bisa menghadapinya, selalu bisa bangkit kembali, selalu bisa berada di jalan yang benar, dan senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Aku tidak berharap 2021 akan menjadi tahun yang lebih baik, bagiku cukup bahwa ia tak menjadi tahun yang lebih menyakitkan.
Terima kasih untuk segalanya, dear 2020. Saat menyongsong tahun 2021 ini, aku harap kita semua panjang umur dan bisa bertemu dengan tahun 2022 ... dan seterusnya. Insya Allah....
Tahun 2020 tengah bersiap pergi, meninggalkan kesan beragam di hati miliaran manusia yang telah tiba di tempat yang berbeda-beda pula saat ini. Begitu 2021 tiba, ia akan segera menjadi bagian dari masa lalu. Mungkin tak akan mudah bagi kita melupakan semua yang telah terjadi dalam 366 hari ini. Termasuk juga bagiku.
Terutama karena ... setelah melalui berbagai badai di pertengahan tahun ini bersama jutaan teman seperjuanganku, gelar "angkatan 2020" akan terus tersemat pada diriku, pada diri kami, tak akan begitu saja terlupakan. Apakah aku menyesal? Tidak. Aku bersyukur. I can't be more grateful to be a part of this year's fighter. This might have been the best way to be what I am today, tomorrow, ... and beyond. And I thank Him for that :)
***
Saat aku mencoba mengenang kembali masa-masa dua belas bulan terakhir, merunut setiap kejadian yang silih berganti tiba dengan kesannya masing-masing, baru kusadari bahwa begitu banyak yang telah kulalui.
Januari
Aku memutuskan untuk mengikuti lagi les bahasa Inggris yang telah kutunda, kalau tidak salah, dua periode. Kembali bertemu dengan guru yang pernah mengajarku sebelumnya, teman-teman dan ruang kelas yang baru. Masa-masa menyenangkan di mana Sabtu selalu menjadi hari yang kutunggu sebagai pelarian dari kewajiban belajar dan try out.
Aku juga sempat mengikuti seminar Bandung DreamIn, semacam seminar yang mengangkat tema self-actualization, diselenggarakan oleh Karisma ITB pada tanggal 19 Januari. Secara keseluruhan muatan seminarnya memang cukup menarik, tapi bukan itu yang menurutku paling berkesan dalam acara itu. Menjelang akhir acara, kami para peserta diberi selembar kertas bergaris berwarna biru yang di paling atas tertulis: "My Dream - will be come true soon!" Ya, kami diminta menuliskan impian kami sesudah mengikuti seminar tersebut.
Di kertas itu, sesudah kubuka kembali sekarang, rupanya aku menuliskan harapanku untuk masuk jurusan Psikologi Unpad di kalimat pertama. Um. Iya, terus terang aku agak kaget juga waktu lihat lagi :)
![]() |
| Abaikan hasil tulisanku karena nulis di kursi tanpa meja :" |
Nah, setelah selesai menulis, kami juga diberikan masing-masing sebuah balon yang belum ditiup dan kami harus memasukkan kertas yang sudah ditulis tadi ke dalamnya. Lalu, kami disuruh meniup balon itu ... sampai meletus. Suruhan itu menuai sedikit kehebohan, termasuk aku sendiri yang langsung mengalami kehebohan internal alias panik, haha. Sejumlah peserta yang takut balon tidak mau melakukannya dan akhirnya diizinkan untuk tidak meniup balonnya serta pindah ke barisan paling belakang kecuali beberapa orang yang ingin mencoba melawan rasa takutnya (mereka keren, aku salut). Aku sendiri panik karena alasan yang berbeda, bukan karena takut letusan balon. Aku takut karena seumur-umur hanya hitungan sebelah jari aku pernah bisa meniup balon sampai besar. Ini disuruh sampai meletus?!
Tidak ada teman yang bisa dimintai tolong untuk meniupkan balonnya kali ini. Adikku sudah pulang duluan dan tidak ada teman yang sudah kukenal baik di sana. Aku harus mencoba sendiri (yea, meskipun ada teman juga aku harus meniup sendiri sih, wkwk, enggak ada bedanya :")). Akhinya aku beranikan diri, mengumpulkan seluruh tekad dan mulai meniup begitu aba-aba diserukan. Suara letusan balon mulai terdengar setelah sekitar semenit atau kurang, entahlah. Aku tidak terlalu memedulikan sekitar karena fokus meniup--entah bagaimana juga caranya aku bisa meniup dan langsung bisa dalam first try.
Kau pasti tahu seberapa besar yang harus dicapai oleh balon untuk bisa meletus. Balon yang kutiup itu akhirnya sudah bisa sangat menggelembung, tapi itu sungguh perjuangan berat dan saat sebagian besar peserta termasuk teman di sebelah kiri-kananku sudah berhasil meletuskan balonnya, aku berhenti, kehabisan napas, terengah-engah, benar-benar merasa tidak sanggup lagi melanjutkan. Tapi aku sudah bertekad untuk menyelesaikannya, jadi aku memaksa diri kembali meniup. Teman di dekatku mulai menyemangati, berseru meyakinkanku untuk terus meniup, membuatku merasa tenagaku sedikit kembali. Sampai akhirnya ...
DOR!
Balon itu meletus di tanganku, berserakan, kertas yang tadi ada di dalamnya terlempar. Aku masih terengah, gemetar menenangkan diri sambil mengambil minum sebelum memungut pecahan balon dan kertasku. Hal itu ... mungkin biasa saja bagi orang-orang, apalagi yang sudah pernah meniup balon. Tapi bagiku, dan juga mungkin mereka yang tadinya takut tapi ingin mencoba, itu suatu prestasi yang luar biasa. HAHA konyol memang kedengarannya, tapi memang seberarti itu.
Hari itu, aku merasa seolah meletusnya balon yang berisi impianku itu, dengan perjuangan keras untuk melakukannya, seperti sebuah pertanda bahwa aku akan bisa mencapai impianku. Mungkin memang berat, seperti saat aku berusaha melawan rasa takut dan mengerahkan segala upaya terbaikku, seperti yang dijelaskan oleh pemateri begitu sesi balon itu selesai. Entahlah, aku tidak tahu, tapi saat itu aku benar-benar merasa dikuatkan, aku percaya Allah akan mengabulkan harapanku dan aku akan berjuang untuk itu. One of the best feeling this year :")
Terus terang saja, efek dari kejadian hari itu masih menyertaiku sampai saat ini. Saat aku berhasil diterima tujuh bulan kemudian, di tengah rasa syok dan euforia yang melanda, aku sempat teringat pada momen di hari Minggu itu. Ada haru dan rasa tak percaya bahwa kalimat pertama yang kutuliskan di kertas itu benar-benar terwujud. Balon itu .... Ah. Allah Maha Besar.... :")
Selain momen Bandung DreamIn, di bulan ini jugalah aku mengikuti Open House Unpad untuk pertama kalinya, hari Sabtu tanggal 25 Januari. Terus terang saja itu merupakan pertama kalinya aku pergi ke universitas impianku itu sejak mengincarnya sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Salah satu momen paling menyenangkan tahun ini. Janjian dengan teman-teman bimbelku sejak hari-hari sebelumnya dan kami pun menghabiskan waktu di sana. Setidaknya aku sendiri menghabiskan waktu sampai sore karena teman-temanku pulang duluan sesudah Zuhur. Mestinya aku juga pulang. Tapi kenapa tidak?
Aku ingat sekali, aku nekat bertahan sampai sore meskipun tidak terlihat adanya teman pulang bareng nantinya itu karena ... aku ingin melihat presentasi mengenai Fakultas Psikologi :) Baru kusadari juga bahwa keambisanku juga terjadi waktu itu, selain menghabiskan waktu paling lama di stan fakultas itu saat keliling. Haha.
Yah, begitulah hari itu. Besoknya, kami juga pergi lagi ke Unpad untuk mengikuti try out. Ya, dua hari berturut-turut itu aku ke sana. Kali itu aku juga sempat menghabiskan waktu sendiri lagi karena alasan yang sama, temanku pulang duluan sementara aku ingin ke Rektorat dulu untuk mengambil foto.
![]() |
| Kertasku kosong karena sengaja kubalik ya, wkwkwk. |